Kilas Balik , Catatan dan  Warning , Memasuki Tahun 2009

oleh : H.Soeharsono Sagir */

Pesan akhir tahun Forum Bandung ( Kelompok Pemerhati Senior )  hasil diskusi tanggal 26 – 27 Desember 2008, berkesimpulan, bahwa bangsa Indonesia tengah berada dalam kondisi sangat kritis karena faktor ketidak pastian tahun 2009 dalam : Politik, Ketatanegaraan, Ekonomi, Budaya berbangsa dan Ancaman krisis finansial global  melanda seluruh dunia ; krisis ekonomi yang lebih dahsyat dari krisis 1929 ( Malaise ) tepat delapan dasawarsa yang lalu,bagaimana mengatasi krisis multi dimensi dalam negeri – konstitusi, politik, ekonomi dan budaya – tersebut , mampu bertahan terhadap krisis ekonomi dunia, merupakan  kilas balik,catatan dan warning yang akan saya kaji  dibawah ini.

Faktor ketidak pastian ( uncertainty ) sebenarnya sudah menjadi  warning    futurologist sejak dasawarsa tujuh puluhan, dengan statemen  sebagai berikut : Memasuki abad ke duapuluh satu, dunia  saat ini  menghadapi tantangan yang jauh lebih hebat dari sebelumnya  : karena  faktor ketidak pastian dimasa depan :  “ yang pasti adalah ketidak pastian” ( the certain one now is uncertainty ) , yang tetap adalah perubahan,perubahan yang begitu cepat ( the constant one now is changing, rapidly changing); segala sesuatu akan berubah dengan cepat, sulit untuk diramalkan, diperhitungkan, dikalkulasikan ( unpredictable,unforeseen, uncalculate ). Jika kita tidak siap, masa depan penuh dengan “ kejutan” atau future shocked  ( Alvin Toffler )    

Untuk  menghadapi faktor ketidak pasatian tersebut,maka kunci solusi yang terbaik adalah mengembangkan kemampuan SDM menjadi Manusia Modal,oleh karena saat ini dituntut adanya kualitas SDM yang unggul,kompeten dan kompetitif.

Andalan sektor ekonomi untuk dapat keluar dari krisis yang berkelanjutan,sejak tahun 1997, adalah Sumber Daya Manusia yang memiliki kualifikasi Manusia Modal atau Manusia Cendekiawan, yang mampu memberikan solusi yang tepat dan benar,bukan adhoc atau tanpa didahului oleh suatu studi kelayakan lebih dulu. Karena dalam era globalisasi – pasar bebas berlaku sepenuhnya jargon, yang diperlukan saat ini bukan kekuatan otot manusia ( kekuatan modal / fisik ) ,tetapi kekuatan otak ; “ In the information era, the strtategic economic resource,has replaced from dollar capital to human capital “

Tidak ada lagi Perencanaan yang berjalan linier – lurus ; segala sesuatunya harus di revisi ditengah jalan , agar apa yang direncanakan dapat dicapai ; jika tidak ada revisi, kita dihadapkan pada kondisi  kaget,  frustrasi , stress , putus asa dan terpuruk,karena kegagalan  ( Alvin Toffler, Peter Drucker, Michael Porter, Deming,John Naisbitt,Kottler  )

Krisis Konstitusi dan Politik akan terjadi ditahun 2009,pasca Pemilu Legislatif dan PILPRES, jika kita masih tetap menjalankan sistem  Presidensial bercampur dengan Parlementer ; hasil Pemilu Legislatif , tetap didominasi dua partai besar ( Golkar dan PDIP ) lebih dari 50 % suara, sedang PILPRES langsung, dimenangkan oleh CAPRES partai kecil dibawah 15 % suara ( SBY,Wiranto atau Prabowo ?? )

Walaupun ramalan tersebut belum pasti terjadi ( uncertainty ) namun yang sudah pasti terjadi, Presiden terpilih langsung akan terpaksa membentuk kabinet melalui koalisi berdasarkan  “ dagang sapi “ dan tidak memiliki hak veto, karena harus melakukan tawar – menawar terlebih dahulu dengan Partai yang menguasai Parlemen. Hal ini terjadi karena Indonesia, memilih sistem Demokrasi Gado – Gado ; Sistim Parlementer tidak – model Inggris,India,Malaysia – Presidential – pun tidak (model Amerika Serikat ).

Krisis Konstitusi inilah yang akan terjadi ditahun 2009, karena Pemilu Legislatif dilakukan sebelum PILPRES. Mengapa tidak dibalik PILPRES dulu, baru kemudian Pemilu legislatif atau kembali sistem Presidensial murni,dimana Presiden memiliki hak Veto karena memenangkan PILPRES langsung.   

Krisis Ekonomi internal akan terjadi dan berlanjut, jika kita tidak melakukan kebijakan : Pro Poor, Pro Job dan Pro Growth ; prioritas utama mengentaskan kemiskinan,bukan dengan cara santunan bagi simiskin ( Bantuan  Langsung Tunai ), tetapi merekrut simiskin untuk diberdayakan sebagai pengrajin yang kreatif dan produktif,dengan pemberian kredit mikro ( Grameen Bank, Mohammad Yunus Bangladesh, 1974 ).

Ciptakan kesempatan kerja padat karya produktif bagi sektor riil / informal , jangan padat karya “ einmalig “, kerja sukarela dengan imbalan nasi bungkus ,namun harus berkelanjutan dengan upah yang layak. Dengan kata lain yang miskin  dan penganggur diberi kail, bukan ikan ( nasi bungkus ).

Baru kemudian sektor formal yang kena krisis ekonomi ( PHK ) dipilih secara selektif, agar tetap dapat tumbuh ( growth ) agar tidak terjadi alat – alat produksi menganggur terlalu lama ( under capacity ) terutama sektor industri yang produknya merupakan kebutuhan pokok rakyat dan memenuhi kebutuhan ekspor.

Stop dengan projek baru Properti gedung – gedung dan perumahan mewah,alihkan dana untuk investasi pengentasan kemiskinan, padat karya produktif dan pertumbuhan produksi kebutuhan pokok dan ekspor.

Dengan kata lain, kita harus mencontoh Presiden Rosevelt, yang menghadapi krisis ekonomi ( 1929 ) dengan New Deal Policy, membangun bendungan untuk memacu sektor pertanian agar dapat bertahan terhadap crisis ekonomi dan tetap  tumbuh, karena sektor pertanianlah yang terutama kena dampak krisis 1929 ; menggali lubang untuk membuat bendungan irigasi, kemudian menutupnya dengan bangunan bendungan irigasi – yang semuanya mengerahkan tenaga kerja padat karya – untuk kemudian menjadikan sektor pertanian tumbuh dan berkembang, dampak apa yang disebut multiplier effect .

Investasi projek irigasi, menciptakan kesempatan kerja bagi mereka yang terlibat dalam projek ; sektor pertanian dipacu untuk bertahan dan tumbuh, maka kesejahteraan Buruh dan Petani kembali meningkat. 

Kita jangan mengulang kebijakan “ Gali Lubang Tutup Lubang “ model Indonesia, yang berarti : Mencari utang ( LN ) , membayar utang jatuh tempo, kemudian mencari utang baru untuk menutup lubang ( defisit ) ; hingga kita selamanya terbelit oleh utang,gali lubang tutup lubang,karena tidak mampu menutup lubang ( default  atau Debt Trap  )

Sebagai Bangsa kita harus meninggalkan budaya busuk (corrupt),corruptive, corruptible, corruption ; bermental “nerabas” alias instant , segala sesuatunya ingin dicapai dengan cepat berhasil , tanpa perencanaan matang, didahului dengan studi kelayakan.

Setiap ada peluang / kesempatan ( opportunity ) disikapi dengan oportunis , berpikir sasaran jangka pendek apa yang paling menguntungkan bagi “saya”  saat ini   (egois) bukan memikirkan sasaran jangka panjang yang menguntungkan semua.

“ Bangsa Indonesia harus segera merubah pola berpikir , dari sibuk memikirkan diri sendiri dan saling menghancurkan ; dari rasa cepat puas dengan apa yang telah dicapai atau dimiliki, menjadi pola pikir yang berusaha meningkatkan produktivitas, kreativitas,demi daya saing dalam percaturan ekonomi Global “  ( Michael Porter, How to make Indonesia more competitive,  Kompas, Jakarta 29 Nopember 2006 )

Unggulan Daya Saing Global,karena kompeten dan kompetitif inilah sebenarnya budaya mental positif yang harus kita kembangkan ; budaya malu karena tidak kompeten, malu karena bermental busuk, malu korupsi, malu melakukan moral hazard – pelecehan moral, malu melakukan pelanggaran hukum,  malu  karena menyimpang dari kebiasaan manusia  yang bermartabat.

Menghadapi krisis finansial – ekonomi Global, yang mulai berlangsung sejak tahun 2008 , kelanjutan krisis ekonomi yang melanda Asia ( 1997 ) yang masih berlanjut di Indonesia, maka menurut pendapat saya, apa yang pernah saya berikan pada Kuliah Umum di ITB dalam rangka Studium General tanggal 1 Nop. 1974 masih relevan dan mampu menghadapi Krisis Ekonomi Dunia 2008, hingga kita tidak terkena dampak  keruntuhan   ekonomi   “ domino  “, sebagai berikut :

1.      Memperluas Kesempatan Kerja Produktif ; kesempatan kerja yang menjamin kehidupan layak ,kesemapatan kerja yang tidak hanya sekedar memberi upah untuk senilai nasi bungkus.

2.      Meningkatkan penghasilan kelompok berpenghasilan rendah, Buruh, Petani Penggarap ( Buruh Petani ) ,Nelayan dan Sektor Infornmal,

3.      Menciptakan iklim usaha yang kondusif dan sehat,khususnya bagi pengusaha pribumi lemah, Unit Usaha Mikro,Kecil,Menengah dan Koperasi ( UMKMK )

4.      Kebijakan Pajak yang mendorong kegiatan sektor riil,padat karya ; pajak progresif

5.      Kebijakan kredit yang mendorong sektor usaha UMKMK ( Usaha Mikro,Kecil, Menengah dan Koperasi )

6.      Proteksi selektif untuk melindungi produksi dalam negeri terhadap komoditi impor, yang belum mampu bersaing dengan komoditi impor.

7.      Lebih meningkatkan kegairahan menabung di Bank Umum Dalam Negeri,agar dana pihak ketiga di Bank meningkat,hingga investasi dalam negeri meningkat

8.      Meningkatkan prasarana pelayanan publik (public service),jaringan jalan, irigasi, bendungan,enerji listrik ,dll

9.      Meningkatkan pelayanan  faslitas : kesehatan,pendidikan dan peribadahan

10. Meningkatkan rasa tentram,aman bagi masyarakat luas,karena adanya jaminan perlindungan hukum yang ditegakkan.

Ekonomi fundamental kuat, bagi negara kita adalah : Pertumbuhan Ekonomi Tinggi – minimal 6 % / tahun – yang didukung oleh :

1)      Perluasan Kesempatan Kerja,ada korelasi positif antara pertumbuhan dan kesempatan kerja

2)      Terkendalinya perkembangan harga dan nilai tukar Rupiah terhadap Valuta Asing ; artinya inflasi dan depresiasi perkembangannya terpantau dan terkendali

3)      Kondisi Fiskal / APBN yang sehat,tidak lagi defisit berkelanjutan hingga utang luar negeri sebagai penutup defisit berlangsung terus ; kondisi debt trap terus berlangsung, terperangkap utang luar negero Gali Lubang,Tutup Lubang.

4)      Kondisi Moneter – Perbankan, sehat dan prudent, simpanan masyarakat meningkat ( dana pihak ketiga ), Bank mampu berfungsi sebagai lembaga intermediasi yang sehat,mampu menjadi motor penggerak peningkatan taraf hidup rakyat banyak ( memperluas kesempatan kerja )

5)      Kondisi Neraca Pembayaran yang favorable, kondisi ekspor yang lebih besar daripada impor ; cadangan devisa bertambah,karena surplus ekspor, bukan dari arus modal masuk dari PMA atau bertambahnya Utang Luar Negeri

6)      Prasarana Umum yang prima,jaringan jalan,jembatan,pelabuhan darat,laut dn udara, irigasi, transportasi dan telekomunikasi yang lancar.

7)      Kondisi Pembangunan dan Pertumbuhan Ekonomi yang ramah lingkungan.

Saya yakin jika kebijakan  Memperkuat Fundamental Ekonomi yang didukung oleh kebijakan terfokus pada program : Pro Poor,Pro Job dan Pro Growth,yang sudah saya canangkan pada tanggal 1 Nopember 1974 – dampak MALARI, Januari 1974 – yang saya jabarkan dalam Sepuluh Kebijakan Melawan Kemiskinan, Keterbelakangan,Pengangguran dan Krisis Berkepanjangan dapat dijadikan prioritas dalam Kebijakan ditahun 2009,maka negara kita tidak akan terpuruk karena krisis ekonomi yang berkepanjangan.      Bandung, 31 Desember 2008                       H.Soeharsono Sagir,

 

 

 


*/ Anggauta Forum Bandung, Ekonom Senior.