PENGUATAN DAYA SAING BANGSA

 Oleh:

Bambang Hidayat

Disampaikan kepada UMK,30 Mei 2008

 

 KILASAN PERISTIWA

            Selama jutaan tahun manusia menumbuhkan teknologi karena semua teknik untuk menghasilkan perkakas, guna mambantu dan memudahkan penyelenggaraan hidupnya, adalah pratanda teknologi. Kapak batu primitip pada manusia purba merupakan hasil teknologi dan sekaligus pratanda awalnya kebudayaan. Teknologi seperti halnya bahasa, upacara, nilai, perdagangan dan seni adalah bagian intrinsik sistem kebudayaan dan sekaligus membentuk serta mencerminkan nilai sitemik. Dewasa ini teknologi merupakan sistem sosial komplek yang berjejaring dengan berbagai tingkat dan arah penelitian, rancang bangun, pembuatan perkakas berseni dan ergonomik. Juga keuangan, ulah dan tata  produksi serta kesantunan merupakan atribut kemanusiaan untuk membantu penyebaran dan kedayagunaan teknologi..

Dalam pengertian luas teknologi merentang semua kemampuan mengubah bahan alami  “dunia”: memotong, membentuk atau mencampur beragam jasad ; memindahkan serba-benda dari satu tempat ke tempat lain, baik dengan tenaga otot, ulah dan gerak, suara ataupun dengan sarana lain buatan manusia. Pengubahan dan perubahan itu merupakan kebutuhan demi penyelarasan, kelestarian spesies manusia dan pemanfaatan bagi dirinya mulai dari pendayagunaan falsafah dasar keamanan dan proses simbioktik dalam kehidupan sosial. Termasuk kedalam kegiatan itu adalah pengadaan makanan, perlindungan kelompok dan pertahanan kawasan. Itu aspirasi kemanusiaan untuk tetap berada, menghadapi dunia-luar-dirinya. Pengalamannya menghasilkan pengetahuan, seni dan tidak kalah pentingnya ialah kontrol.

Hasil perubahan atau pengubahan itu kadang kala membangkitkan dampak tidak terduga oleh jangkauan akal jamannya bahkan sering menjadi rumit. Kerumitan itu meliputi keuntungan tidak terduga, perubahan biaya dan risiko yang tidak diharapkan oleh akal-pikir perencanaan. Namun pengalaman yang terekam dalam akal-pikiran dan sanubarinya membantu membuat hari esok yang lebih waspada dengan tidak mengulang kesalahan yang sama. Oleh karena itu menduga dampak dan hasil ikutan yang menyembir dari suatu upaya teknologi menjadi sama pentingnya dengan memajukan kemampuan teknologi. Itu sendiri. Ciri, pratikel, manusia sebagai mahluk berfikir menghasilkan tatanan pengalaman yang memantap menjadi wawasan, kebijakan, dengan jangkauan selalu mengusahakan pendayagunaan teknologi seefisien atau sepermana mungkin untuk kepentingan spesiesnya.

 

Kita mengenal istilah dan berkenalan dari dunia kata “rekayasa”,  yakni penerapan secara sistematik sekumpulan teknik dan teknologi untuk melahirkan kemahiran dan keuntungan untuk menjinakkan terpaan kesempatan yang didapati dalam kehidupan atau ancaman terhadapnya. Pengalaman yang terkumpul, tercatat atau tersalurkan dengan azas turun-temurun, menghidupkan suatu rumpun pengetahuan yang sewaktu-waktu  dijabarkan untuk menguasai  keadaan. Pengetahuan menjadikan perangkat memprakirakan sifat dan dampak  sesuatu sebelum sebuah perangkat dibentuk atau sebelum diterpa peristiwa. Adalah naluri dan kepandaian, bahkan mungkin bakat, untuk dapat mengeja lintasan hasil kerja nanti pada fase pasca pembangkitan suatu rekayasa. Artisan dimasa keantikan sejarah kemanusiaan mempergunakan naluri-adinya, tetapi dimasa modern sebagian, hanya sebagian saja, dapat dipelajari secara sistematik dalam kelembagaan yang bernama sekolah atau pelatihan. Sebagian besar lainnya tetap ditentukan oleh jeni yang dimiliki seseorang. Ilmu pengetahuan dan teknologi mengajarkan dasar-dasar pengamatan: Orang yang sadar dan  berfikir dapat mendaftar pengamatan itu sebagai katalogus peristiwa, tetapi orang yang cerdas mengambil kesimpulan dari katalogus peristiwa  itu menjadi suatu teori sementara. Melihat, menyusun dan memikir serta menarik kesimpulan adalah  proses linier-berurutan menuju kepada hipotesa, yang masih harus dikukuhkan. Makin banyak ingkaran atau simpangan peristiwa dari hipotesa itu makin lembeklah status hipotesa dan harus dicarikan padanan lain agar lebih rasionaldan mengakomodasi ketaatazasan lebih banyak. Barulah hipotesa itu menjadi berbobot intelektual.

 

PENGETAHUAN DAN STRUKTURNYA

Proses umpan balik mulai timbul karena dalam urutan langkah rekayasa terjaring pengetahuan yang memberi warna serta mensyaratkan standar penerimaan kebenaran dan kesahihan. Sebaliknya hasil teknologi memberi masukan baru kepada pengetahuan yang pada fasa ini mungkin sudah memperoleh cap ilmu pengetahuan. Tatkala teknologi lebiih handal kaitannya dengan standar yang di terapkan dan dapat mengikis batas kesalahan yang dapat diperhitungkan maka korelasi dengan upaya ilmu pengetahuan menjadi makin nyata. Teknologi tidak hanya merupakan piranti bagi ilmu pengetahuan bahakan, sebaliknya, mengecambahkan motivasi dan arah suatu teori  dan penelitian untuk diberdaya gunakan. Contoh sederhana adalah teori hukum kekekalan energi dibangkitkan oleh masalah teknologi untuk memperbesar efisiensi mesin uap komersial. Yang dalam 15 terakir ini terjadi, pemetaan genetik DNA manusia juga terangkat oleh teknologi nano tidak hanya memijah keinginan rekayasa genetika tetapi juga, sisi positipnya,  membuat pemetaan itu menjadi lebih cermat. Keduanya memungkinkan pemetaan sahih, dengan “margin of error” sempit, dapat dilaksanakan dan menjadi dorongan berlangsungnya pemetaan yang melahirkan  ilmu kesehatan baru.

Pada beberapa cabang teknologi kaitan rekayasa dan ilmu pengetahuan tampak tidak terpisahkan. Pembuatan transistor dan superkonduktor adalah contoh dari fisika-solid-state yang terlahir tatkala rekayasa dan ilmu pengetahuannya lahir hampir bersamaan.waktunya. Sinergi keberhasilan kedua wilayah ujung tombak keilmuan itu memperoleh manfaat dari keterbukaan sifat inovatif pengetahuan yang memanfaatkan matematika sebagai alat menyederhanakan persoalan dan mengerti tingkah laku gaya dalam jasad renik. Lebih anggun lagi, seperti dikemukakan Paul Dirac dalam wawasan falsafah fisikanya “Physical laws should have mathematical beuaty”. Kita menapis  daripadanya etos yang mencuatkan karakter asli-adi  kemanusiaan untuk mengejawantah logika dan menonjolkan kreativitas untuk menerobos perbatasan baru dalam ujud kerjasama antar disiplin yang sinergik. Dan ini adalah ciri modern tanggung jawab emansipatorik ilmu pengetahuan dan teknologi yang  dalam waktu singkat memijah hasil kerjasama itu menjadi contoh pemanfaatan masyarakat luas dari berbagai bidang kehidupan.

. Secara singkat ulah seperti itu dapat dilukis: ilmuwan dari dalam mencoba melihat dan mengerti perilaku alam materi, dan rekayasawan mencoba melihat melihat apakah pola baru yang tergenggam didalam alur pikirannya dapat di “manipulasi”, dalam pengertian murni kata itu, aspek positif perilaku alam materi. Tiga hal tampak menyatu: ilmuwan memperlihatkan bahwa teori sesuai dengan ramalan logis data pengamatan; matematikawan mencari bukti logikal hubungan abstrak, rekayasawan menghasilkan dan memperlihatkan bahwa rancang bangunnya dapat berfungsi. Keterbatasan dalam dunia kerja tripartite seperti itu ialah adanya kesadaran bathin bahwa ilmuwan tidak dapat menjawab semua pertanyaan mendasar; matematikawan tidak selalu dapat membuktikan semua hubungan dan kaitan fungsional yang mungkin ada; dan rekayasawan tidak dapat membuat rancang bangun dan memecahkan semua masalah. Mereka harus saling mengisi untuk menghasilkan yang terbaik. Oleh karena itu agenda penting adalah teknologi-sandar-ilmu-pengetahuan untuk masa depan, yang direntang lebih jauh dan lebar. Kaidah itu melebar keranah kehidupan sosial. tu. Ekonomi dimasa depan berciri ekonomi berlandas ilmu pengetahuan yang mensyaratkan kerjasama antar komponen sosial dan pekerja ilmu keras untuk menghantarkan perancangan yang kokoh. Masalah yang dapat diangkat sangat jamak mulai dari masalah air dan tebaran serta penyebarannya. Kita di Indonesia sebenarnya telah memulainya dalam skala terbatas dengan kearifan lokal yang mempunyai muatan idiil tentang pengairan untuk lahan dan kelanjutan sumber. Kini telah tumbuh kesadaran akan elemen cuaca, yang pernah dikirakan panggah tetapi ternyata selalu berubah kandungan kimiawi secara periodik harian ataupun dekadal. Pengubahanya dapat disulut oleh lam bahkan oleh manusia. Lahirlah etika lingkungan abad 21, yang menggarisi pembangunan berlanjut sambil mengingat agar ubahan tersebut tidak mengubah keselaran hidup. Indonesia sudah semenjak abad 19 mengenal pranotomongso yang berintikan pengamatan gejala alam sebagai pratanda perubahan.

 

 PENDIDIKAN DAN PENGAJARAN

             Ilmu Pengetahuan dan pengajarannya di Indonesia dapat dikatakan merupakan  transplantasi dari pendidikan dan harkat hidup model Barat, baca Belanda. Pertumbuhannya dalam proses transplantasi itu kadang kala menemui beberapa kendala yang bertautan dengan budaya dan kebiasaan setempat, lokal maupun regional, tabu dan kelumrahan yang bersifat pasrah terhadap alam. Sikap yang seharusnya berkembang bersama dengan kemunculan pertanyaan mengenai kaidah dan kegunaan ilmu pengetahuan, bagi kehidupan dalam ranah sosial, sering harus dikemukakan dengan nada kritis dan sikap terbuka dan bukan dengan retorika belaka, belum sepenuhnya terimbas. Rasionalisasi khusus dapat menjadi sumber jawaban tanpa memperhatikan hipotesa dasar yang berbobot keumuman. Hal yang sama diamati oleh Koshland (1993) di banyak negara Asia, yang  memperlihatkan babwa pengalihan sikap dan budaya sains dan ikutanya; yakni penelitian (riset) terhambat oleh beberapa faktor sosial dan budaya. Sudah menyenangkan, walau belum memuaskan, bahwasanya riset sudah terbangunkan dan masih merupakan sub-area akademik yang bisa terlepas dari permasalahan lingkungannya. Sudah diketahui bahwa pengobatan herbal, yang dapat menyediakan pilihan penyediaan obat kimiawi, sudah terkembang ribuan tahun di Nusantara, tetapi riset itu melupakan sumber herbal dari tanah yang kini menciut karena pengalihan lahan untuk keperluan non-agararis. Masih banyak nilai terapeutik tanaman tropis yang harus kita gali dan pelajari.

           Indonesia telah mempunyai lembaga pendidikan tinggi yang mengalihkan keilmian melalui pengajaran ilmu pengetahuan dan teknologi. Negara mempunyai tujuan luhur yakni mencerdaskan bangsanya, berkehendak mengejar kemajuan di bidang ekonomi dan industri dengan kiat memperkuat pautan dan janji kita dengan ilmu pengetahuan. Oleh karena ilmu pengetahuan merupakan budaya dengan legalisasi  yang secara sistematik menyusun alur pemikiran, maka tumpuan kita adalah pada pendidikan formal menuruti   berbagai strata kemampuan. Pendidikan yang baik harus dapat mengimbas kepribadian dan mencuatkan kemampuari internal, bukan hanya memerikan kepandaian meramu menurut suatu resep. Oleh karena itu membicarakan peningkatan komitmen kepada pengetahuan dasar untuk kesejahteraan bangsa tidak akan lepas dari proses pendidikan sebagai sarana mengubah sikap dan kiat. Pohon pendidikan itu menghasilkan buah pendidikan, yang tentu saja tidak segera dapat diraih karena tenggang waktu panjang untuk internalisasi  proses yang tak-seketika, sejang kala antara luaran dan masukan intelektualita. Pendidikan Ilmu Pengetahuan tidak lepas dari kaidah itu dan kebangkitan seseorang tidak tertandai dengan keahliannya mengulang kata tetapi pada kemampuan melihat konsep dan menelusurinya.

 Pernah muncul pertanyaan retorika apakah pendidikan itu sebuah investasi atau konsumsi. Pendidikan yang hanya berupa pengajaran saja jelas belum memadai untuk tujuan pengembangan bangsa masa depan. Dalam majalah Nature (16 Desember 1993) terungkap bahwa, sebagai perbandingan, India meletakkan dasar ambisinya  dalam pengertian yang paling positif agar sukses dan mendudukkan dirinya sebagai the “first-rank industrial power on the strength of its own research and development”. Dan riset itu adalah riset dasar!. Bukan secara kebetulan kalau ulasan mengenai kemajuan di Cina (Abelson, 2006) juga menyentuh hal yang sama. Jadi pendidikan yang berjalan bersama dengan pemupukan nilai keinginan tahu secarakritis dan  penelitian merupakan suatu ulah yang tidak dapat kita tanggalkan. Richmond (1993) di Inggris melihat  “Without an excellent basic research base, I do not believe Britain can ever produce a highly developed workforce for the need. of its industry in the next century”. Dimasa lampau Pemerintah Belanda di “Ned. Indie” pun menyadari perlunya penelitian bahkan penilitian bibit unggul pertanian untuk daerah tropika dilakukan semata-mata agar  sumber hayati untuk industrinya tidak puinah dan mempunyai daya saing tinggi. Penelitian biologi murni diselenggarakan untuk mengetahui geobotani yang, secara tak langsung, kini menyelamatkan herbal terapeutik kita.

 

PENELITIAN

Mengawali bagian ini kiranya perlu pencantuman adagium yang mengukir penelitian adalah mengenali subyek, memgerti peristiwa yang terjadi dan dapat memaknai secara hakiki saripati perubahan. Banyak penelitian dan lembaga penelitian di Indonesia lahir.jauh sebelum pendidikan formal tertiair dapat diselenggarakan. Hortus Botanicus Bogor misalnya (Pyenson, 1988) dan banyak “proefstations” (Pyenson, 1994; van der Schoor, 1993) lahir 75 tahun sebelum ada universitas merupakan tempat pengecambahan ilmuwan (Belanda) yang mengembangkan biologi . Mereka kemudian menjadi  mashab tersendiri dalam dunia keilmuan. Keadaan itu sebenarnya mengingkari aturan umum yang menyatakan riset lahir dari garba perguruan tinggi. Nyatanya hanyalah kemauan yang dibarnegi dengan keasadaran dan pembentukan infrastrutkur yang menghasilkan ilmu kelas dunia. Hal yang sama diperlihatkan oleh Kolonialis Inggris di India  dengan nuansa tujuan yang sedikit berbeda dalam arti mereka memanfaatkan sains dasar untuk kepentingan eksplorasi dan penguasaan wilayah. Apapun yang pernah terjadi di belakang punggung sejarah itu hasilnya sama bagi pendidikan tingkat tinggi ialah membentuk manusia ying sadar hukum alam. Pada waktunya hukum dan pengetahuan dasar itu diterapkan untuk kepentingan industri dan ekonomi bahkan untuk kekuasaan tetapi juga untuk kebaikan. Hampir semua proses mitigasi bencana alam dipersiapakan setelah kelakuan alam dapat di pelajari secara seksama. Canang awal yang mendahului gelombang bencana, dipelajari, ditandai dan dipaterikan dalam ingatan publik. Kita di Indonesia boleh berbangga karena sikap antisipatif seperti itu sebenarnya juga digeluti dan diperlihara oleh kebijakan lokal-tradisional. Tentu saja ilmuwan modern harus mampu memilah kebijakan dari pemitosan peristiwa  agar tidak tersandung batu kealpaan..

Wajah kuantitatif pendidikan kita, dengan jumlah universitas negeri dan Swasta yang banyak, sebenarnya harus sudah kita syukuri karena menampung banyak keinginan walaupun roh dan jiwa pendidikan tinggi masih harus kita tiupkan kedalam pengajaran dan pendidikan. Pendidikan tidak ingin hanya membentuk kelompok orang bertitel dan bergelar tinggi, tetapi ingin  menyemaikan dan menumbuhkan korp inti ilmuwan yang berkeinginan menghayati pernik kehidupan dengan pertanyaan kritis dan pemecahan jangka panjang berbobot. Keberadaan korps seperti itu sangat penting untuk mengangkat derajat bangsa di pentas pacuan bangsa beradab masa depan. Mereka diharapkan dapat memberi nilai tambah yang dapat mengungkap kekayaan alam menjadi multiguna. Seperti yang dikatakan oleh Swarup (1991) “Human progress has always depended on the achievements of a few individuals of outstanding ability and creativeness”. Adagium itu benar dan Indonesia mempunyai kiat untuk meningkatkan kemampuan bangsa ini secara serentak, setidaknya menyadarkan adanya budaya yang bernama sains dan teknologi yang pada waktunya mampu menghadirkan nilai guna kekayaan alami mentah. Kuajiban kita ialah mengintensifkan pendidikan keilmiahan dan tatacaranya untuk membentuk manusia  kritis dan berkeinginan mengkaji.

Pendidikan pada dasarnya adalah pengubahan sikap individu dengan memberikan imbuhan positif pada nilai natura individu yang bersangkutan. Harapan pendidiknya ialah agar imbuhan itu menjadi bekal seseorang untuk dapat mendayagunakan keunggulan diri, sedangkan  yang bersangkutan, se- telah terasah oleh proses pendidikan itu merasakan sentuhan nilai tambah dan, dengan itu, mampu dan mau mengembangkan dirinya. Pengembangan sikap tumbuh seperti itu  rnerupakan sidik jari penting luaran suatu proses pendidikan. Sebaliknya, proses yang tidak menimbulkan sikap greget seperti itu memerlukan penanganan dan bantuan untuk dikembangkan menuju kearah kesadaran internal diri sambil memperhatikan kemampuan individuil.

Salah satu upaya pendidikan kita ialah, seperti dikemukakan diatas,  memperkenalkan keberadaan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam kehidupan kita. Kemampuan yang telah tumbuh itu mampu mengangkat potensi kita untuk keperluan internal dan menahan desakan dari luar. Pendidikan dapat dilaksanakan melalui berbagai cara, mulai dari yang informal – dengan sistem pendito dan cantrik  sampai kepada yang ketat formil dalam wadah universitas. Yang hendaknya tetap digenggam dalam ingatan ialah kita mendidik manusia dengan variasi kemampuan dan aneka perhatiannya. Tidak dapat anak manusia itu disamakan dengan titik-titik tak bermakna atau sebagai masukan komputer dengan luaran yang tidak menyentuh kepribadian. Tentu saja harus tahu meletakkan batas antar kedua regiem pendidikan itu untuk memperoleh sukses. Cara pertama mempunyai batasan karena nisbah masukan-luaran terlalu kecil, walaupun akan menjamin kelangsungan suatu tradisi. Kelanjutan tradisi ulung bukan merupakan keaiban, tetapi ketidak efisienan proses membutuhkan pemikiran yang mendalam walaunpun bisa menghasilkan sosok terpercaya berkat polesan rohaniah pribadi. Di ujung lain, bekerja secara statistis akan menghasilkan satu angkatan kerja terdidik dalam jumlah yang memadai, tetapi belum tentu  termotivasi untuk mengikuti tapak perjalanan pendahulunya.

 

PESAN DAN TANTANGAN

Dalam dunia yang cepat berubah pendidikan bersistim mungkin, dengan imbuhan rasa-kental tanggung jawab pribadi, mempunyai luarannya yang masih dapat di harapkan menjadi tokoh mandiri.  Mandiri dalam artidapat menancapkan ketrampilan pada dirinya serta menghayati medan kerja didepannya yang selalu berbuah. Keajuan teknologi meminta kebutuhan baru, tipologi angkatan kerja yang sesuai. Kerpibadian yang berkemampuan menyesuaikan diri dengan cepat mempunyai kemungkinan meraih masa depannya. Apalagi kalau pendidikan dapat mengecambahkan “organized sceptisim” sebagai bekal anak didik memasuki ranah pekerjaan yang selalu berubah. Pendidikan bukan ditujukan semata untuk menghasilkan superstars (yang memang diperlukan, tetapi itu satu dari seribu), melainkan pendidikan untuk populasi dengan kemampuan  menengah yang banyak kita temui. Pertumbuhan apresiasi terhadap isu dalam sains dan teknologi diantara mereka, akan merupakan aset yang berharga untuk mengejar kemajuan dengan rasionalitas yang tangguh.

 

Pengalihan pengetahuan, yang kita sebut pengajaran dan penelitian, sebagai watak, adalah dua buah sisi mata uang dalam bursa akademia. Keterlibatan seorang staf pengajar tidak diharapkan hanya mampu mengalihkan kumpulan ilmu yang terkodifikasi tetapi juga  mampu menumbuhkan pemikiran yang menanya atau mempertanyakan fenomena dan kesahihan suatu keterangan. Penelitian sebenarnya merupakan kompas moral sebuah universitasyang pada waktunya kompas itu merupakan ukuran dalam skala  peradaban lembaga seperti universitas. Nilai dan kehormatan negara sangat tergantung kepada ukuran itu. Oleh karenanya pembangunan kelompok  pemikir dani ilmuwan tetap selalu ditunggu oleh pembayar pajak dan masyarakatnya. Kewajiban luhur universitas adalah menyediakan sarana untuk itu, terutama manusia berdayagua, wacana dan sasana ilmiah yang didukung oleh perpustakaan. Universitas yang mengabaikan perpustakaan adalah fasilitas pendidikan tersier yang limpung karena mengabaikan kehakikian pembentukan manusia yang bernaluri ingin tahu. Pengumpulan informasi adalah pemupukan investasi mahal tetapi tidak dapat dihindari kalau kita ingin hasil didikan tidak myopik.

Kata akir yang tak boleh tertanggalkan ialah tautan pengajaran dan pendidikan dengan etika, walau disadari bahwa nilai etika dapat ber-evolusi. Bilamana lingkungan fisik dan sosial berubah terjadilah proses penyesuaian dan pelurusan moralita. Wawasan dan kebijakan baru dapat menumbuhkan nilai etika penyelaras tetapi hanya baik dan terhormat kalau tidak bersikap aplikatif sesaat. Tuntunan dan tuntutannya adalah nilai itu tetap berbalutkan azas kemasahalatan manusiawi dan bukan oleh azas kemanfaatan sesaat saja. Memposisikan diri untuk masa depan adalah sikap perlu dan mulia,  tetapi akan lebih terhormat kalau selalu  terwarnai oleh etika sosial dan lingkungan yang memuji kebaikan.

 

PESAN DAN TANTANGAN

Dalam dunia yang cepat berubah pendidikan bersistim , dengan imbuhan rasa-kental tanggung jawab pribadi, mempunyai luarannya yang masih dapat di harapkan menjadi tokoh mandiri. Mandiri dalam arti dapat memantapkan dan mengarikulasi ketrampilan pada dirinya serta menghayati medan kerja luas di depannya yang selalu berbuah. Kemajuan teknologi meminta kebutuhan baru, tipologi angkatan kerja yang sesuai tuntutan kemajuan. Kepribadian yang terguyur wawasan keilmuan yang berkemampuan menyesuaikan diri dengan cepat mempunyai kemungkinan meraih masa depannya. Apalagi kalau pendidikan dapat mengecambahkan “organized sceptisim” sebagai bekal anak didik memasuki ranah pekerjaan yang selalu berubah. Pendidikan bukan ditujukan semata untuk menghasilkan superstars (yang memang diperlukan, tetapi itu satu dari seribu jiwa), melainkan pendidikan untuk populasi dengan kemampuan menengah yang banyak kita temui. Pertumbuhan apresiasi terhadap isu dalam sains dan teknologi diantara mereka, akan merupakan aset yang berharga untuk mengejar kemajuan dengan rasionalitas yang tangguh.

Pengalihan pengetahuan, yang kita sebut pengajaran dan penelitian, sebagai watak, adalah dua buah sisi mata uang dalam bursa akademia. Keterlibatan seorang staf pengajar tidak diharapkan hanya mampu mengalihkan kumpulan ilmu yang terkodifikasi tetapi juga  mampu menumbuhkan pemikiran yang menanya atau mempertanyakan fenomena dan kesahihan suatu keterangan. Penelitian sebenarnya merupakan kompas moral sebuah universitas yang pada waktunya akan merupakan ukuran dalam skala  peradaban lembaga seperti universitas. Nilai dan kehormatan negara sangat tergantung kepada ukuran itu. Oleh karenanya pembangunan kelompok  pemikir dani ilmuwan tetap selalu ditunggu oleh pembayar pajak dan masyarakatnya. Kewajiban luhur universitas adalah menyediakan sarana untuk itu, terutama manusia berdayagua, wacana dan sasana ilmiah yang didukung oleh perpustakaan dan ajang tukar pikir. Universitas yang mengabaikan perpustakaan adalah fasilitas pendidikan tersier yang limpung karena mengabaikan kehakikian pembentukan manusia yang bernaluri ingin tahu. Pengumpulan informasi adalah pemupukan investasi mahal tetapi tidak dapat dihindari kalau kita ingin hasil didik kita tidak myopik.

 

Kata akir yang tak boleh tertanggalkan ialah tautan pengajaran dan pendidikan dengan etika, walau disadari bahwa nilai etika dapat ber-evolusi. Bilamana lingkungan fisik dan sosial berubah terjadilah proses penyesuaian dan pelurusan watak dan moralita. Wawasan dan kebijakan baru dapat menumbuhkan etika bernilai penyelaras tetapi hanya baik dan terhormat kalau tidak bersikap aplikatif sesaat, apalagi introvert. Tuntunan dan tuntutannya adalah nilai itu tetap berbalutkan azas kemasahalatan manusiawi dan bukan oleh azas kemanfaatan sesaat saja. Memposisikan diri untuk masa depan adalah sikap yang perlu dan mulia,  tetapi akan lebih terhormat kalau selalu  terwarnai oleh etika sosial dan lingkungan yang menjunjung kebaikan.