Read the rest of this entry »

Ketua Umum Kadin Jabar, Agung Suryaman Sutisno (kiri) bersama Direktur Utama/Pemimpin Umum Pikiran Rakyat, H. Syafik Umar (tengah) saling menyerahkan naskah Perjanjian kerjasama antara Pikiran Rakyat dengan Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Jabar disaksikan Direktur PT Pikiran Rakyat Bandung, H. Januar P. Ruswita (kanan) tentang Peningkatan Pemahaman Terhadap Dunia Usaha dan Potensi Ekonomi di aula kantor Pikiran Rakyat Jln. Asia Afrika 77 Bandung, Jumat (20/3).* DIDIN SJ/"PR"

Ketua Umum Kadin Jabar, Agung Suryaman Sutisno (kiri) bersama Direktur Utama/Pemimpin Umum Pikiran Rakyat, H. Syafik Umar (tengah) saling menyerahkan naskah Perjanjian kerjasama antara Pikiran Rakyat dengan Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Jabar disaksikan Direktur PT Pikiran Rakyat Bandung, H. Januar P. Ruswita (kanan) tentang Peningkatan Pemahaman Terhadap Dunia Usaha dan Potensi Ekonomi di aula kantor Pikiran Rakyat Jln. Asia Afrika 77 Bandung, Jumat (20/3).* DIDIN SJ/"PR"

Read the rest of this entry »

Read the rest of this entry »

Read the rest of this entry »

Read the rest of this entry »

Pertemuan Asosiasi Produsen Pupuk Kecil Menengah Indonesia (APPKMI) dan Kadin Jawa Barat dengan PT Pusri (Persero) tgl 23 Maret kemarin berhasil menyepakati kemitraan 63.000 ton organik granul – yang diproduksi tahun 2009 oleh sekurangnya 15 UKM Pupuk di Jawa Barat di off taker seluruhnya PT Pusri. Lokasi produksi tersebar mulai Padallarang, Ciranjang, Cikembar Sukabumi, Ciamis, hingga Bekasi. Bahkan dalam pertemuan pembahasan kontrak itu dikemukakan juga data Bapenas ( 2008), kalau program pengembangan organik melalui subsidi pemerintah ( PSO) akan terus ditingkatkan masing-masing menjadi 1.050.000 ton ( 2009), 1.700.000 ( 2010), 2.300.000 ( 2011) dan 3.000.000 ( 2010).

Bagi suatu wilayah ( dhi Jawa Barat), realisasi kontrak itu tentu saja akan memberi manfaat berganda (multiplier effect) kepada masyarakat ( peternak, pengolah sampah jadi kompos, penambang mineral phosfat dan zeolit) karena bahan baku pembuatan pupuk organik granul adalah kotoran hewan (kohe, 40 %), kompos ( fermentasi sampah, 40 %) dan sisanya phosfat, zeolit, dolomit dan inokulan mikroba.

Namun, ditengah kegembiraan itu, APPKMI dan peserta forum tersebut memberi catatan akan masalah yang harus diwaspadai dan akan dihadapi adalah :

1. Data kompos dan kotoran hewan yang dilansir pemerintah ( Deptan) lebih berdasar populasi hewan, seolah besar- padahal pola peternakan tersebar dengan pemilikan kecil- kotorannya akan sulit dimobilisasi sebagai bahan baku,

2. Sumber kompos makin mahal akibat masih sulitnya sumber sampah organik ( di sumber penghasil, belum tercemar logam berat) sebagai bahan pembuatan kompos. Penghasil sampah organik ( pasar, restoran, hotel, dll) masih dipolakan membuang dengan cara tercampur dengan an-organik ke TPA.

Besarnya manfaat proyek pengembangan organik bagi kebersihan kota, pengembangan ternak dan pembukaan lapangan kerja serta peluang usaha, mengharuskan banyak pihak ikut berperan dalam upaya mensukseskannya.

Apa yang bisa dilakukan masing-masing pihak ? Ayo sampaikan untuk menjadi bahan awal kita melakukan koordinasi.

Sonson Garsoni

Produsen Kekurangan Kompos

BANDUNG, (PR).-
Produsen pupuk organik di Jabar sampai saat ini masih mengalami kekurangan kompos yang menjadi bahan baku utama pembuatan produk mereka. Sehingga banyak peluang pasar yang belum termanfaatkan, karena kesulitan meningkatkan produksi dengan jumlah kompos yang terbatas.

“Untuk menutupi kekurangan, banyak produsen pupuk organik yang membeli kompos dari Jateng. Tapi itu pun masih jauh dari cukup jika dibandingkan dengan pasar yang tersedia,” ujar Ketua Asosiasi Produsen Pupuk Kecil Menengah Indonesia (APPKMI) Jabar, Sonson Garsoni, Jumat (6/3).

Dikatakan, saat ini produksi pupuk organik di seluruh Jabar 529 ton per hari. Jumlah itu sebagian besar diserap oleh BUMN-BUMN yang menjadi pelaksana program subsidi pupuk pemerintah. Itu pun sebenarnya belum terpenuhi, karena kuota untuk Jabar kurang lebih 700 ton per hari.

Sebagian lainnya dijual ke perkebunan-perkebunan di luar pulau Jawa, terutama perkebunan di Sumatra dan Kalimantan. Selain itu pupuk organik Jabar juga diekspor ke Myanmar, Vietnam, Thailand, dan Jepang.

“Jumlah yang diekspor masih relatif kecil, kurang lebih 200 ton per bulan. Ini sudah berlangsung sejak dua tahun lalu. Peluang untuk eskpor ini masih sangat terbuka, karena dari waktu ke waktu permintaannya terus meningkat,” katanya.

Ditambahkan, penjualan ekspor sebetulnya tidak dilakukan secara sengaja. Karena awalnya dimaksudkan hanya sebagai jalan keluar, akibat minimnya daya serap pupuk organik di Jabar. Ternyata, pupuk organik kurang dilirik petani Jabar karena kalah pamor dengan pupuk anorganik, pupuk organik Jabar banyak diminati oleh petani-petani di negara tetangga.

“Pendeknya, pasar untuk pupuk organik Jabar sekarang ini lagi bagus-bagusnya. Sebaiknya ini bisa dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk masyarakat Jabar, paling tidak dalam bisnis turunannya seperti kompos,” katanya. (A-135)***

kadin-gub1Mengikuti kunjungan rombongan Pengurus Kadin Jawa Barat berkunjung ke Gubernur Jawa Barat  di Gedung Pakuan dan ke Wakil Geburnur di Gedung Sate beberpa waktu yang lalu, kata yang tepat untuk melukiskan hasil-hasil yang diperoleh adalah posisi Kadin Jawa Barat dengan Mitra Kerjanya Pemerintah Dearah Propinsi Jawa Barat adalah sudah On The Right Track. Artinya, akan sejauh mana kita mencapai tujuan-tujuan yang ingin di capai itu, akan sangat tergantung dari keseriusan kedua belah pihak. Sikap Gubernur Ahmad Heriawan, begitu terbuka kepada usulan-usulan Kadin Jawa Barat pun Wagub Dede Yusuf bahkan menantang untuk terus menerus pro aktif melakukan pendekatan dengannya.

jetro

Read the rest of this entry »

Blog Stats

  • 21,385 hits
January 2020
M T W T F S S
« Aug    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Top Clicks

  • None

Archives