KOMPETISI menuju pemilihan presiden (pilpres) sudah dimulai. Rakyat kini memiliki tiga pilihan pasangan calon presiden dan calon wakil presiden dengan agenda masing-masing.

Salah satu agenda yang menjadi perhatian luas adalah program ekonomi. Pasangan Jusuf Kalla-Wiranto, Megawati-Prabowo, dan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono mulai membuka visi ekonomi kerakyatan, tetapi jalan yang mereka pilih tidak sama. Maka, inilah pemilihan presiden dengan agenda ekonomi paling beragam jika dibandingkan dengan pilpres sebelumnya.

Pasangan JK-Wiranto memilih perbaikan sektor riil lebih cepat dan lebih baik. Dalam dialog dengan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, awal pekan ini, Kalla menegaskan tidak akan menggantungkan sistem perekonomian Indonesia pada pasar modal semata.

Itu disebabkan hajat hidup masyarakat Indonesia justru bergantung kepada keberlangsungan sektor riil. Secara lugas Kalla mencontohkan anjloknya pasar modal hanya bersifat sesaat dengan akibat yang tidak masif. Akan tetapi, jika yang hancur adalah Pasar Tanah Abang Jakarta dan Pasar Klewer Solo, dampaknya ke seluruh Indonesia.

Kalla juga menyoroti lambannya birokrasi, tingginya suku bunga kredit, buruknya infrastruktur, serta tingginya alokasi APBN untuk subsidi dan membayar utang sebagai biang kerok lambatnya pertumbuhan ekonomi.

Capres yang diusung Partai Golkar dan Partai Hanura ini pun berjanji memperbaiki semua itu dengan target mampu mencapai pertumbuhan ekonomi 8% mulai 2011.

Caranya dengan menyelesaikan konversi minyak tanah ke gas pada 2010 dan merampungkan proyek listrik 10.000 megawatt. Jika terealisasi, anggaran bisa dihemat hingga Rp200 triliun. Dana itulah yang akan digunakan untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi. Berbeda dengan Kalla, SBY mengemukakan agenda pembangunan ekonomi untuk semua.

Ia tidak mengkhususkan pada satu segi. Ia pun hanya menjanjikan rata-rata pertumbuhan ekonomi 7% pada akhir 2014.
Alasannya Indonesia masih dipengaruhi buruknya perekonomian dunia dan masih dalam tahap pemulihan ekonomi pascaresesi global. Selain itu, masih banyak agenda di APBN yang perlu dibiayai, di antaranya program social safety net. SBY memilih untuk tetap mengedepankan stabilitas makroekonomi. Ia menargetkan konsumsi domestik 5% dan inflasi di bawah 6%. Akan halnya pasangan Mega-Prabowo amat gamblang menitikberatkan agenda ekonomi kerakyatan.

Misalnya, menggenjot pertanian dengan mencetak 7 juta hektare sawah. Selain itu, Mega-Prabowo akan memaksimalkan potensi penghasilan laut dengan memberikan akses yang luas kepada nelayan. Pasar-pasar tradisional pun digenjot.

Prabowo pernah menjanjikan pertumbuhan ekonomi hingga 10% dalam kurun lima tahun mendatang. Amatlah jelas, ketiga pasangan memiliki agenda dan cara masing-masing untuk menarik pemilih. Namun, dengan tahapan seperti apa dan dengan cara bagaimana sasaran ekonomi itu diraih, masyarakat belum mendapatkan gambaran yang jelas.

Gambaran yang jelas itu mestinya akan diperoleh pada masa kampanye nanti. Di situlah tiap-tiap pasangan capres-cawapres memaparkan dengan gamblang bagaimana semua janji ekonomi itu dapat diwujudkan. Dari sanalah kita bisa mengkaji apakah yang ditawarkan dapat diwujudkan atau tidak. Berdasarkan itu lalu memutuskan manakah pasangan capres-cawapres yang layak dipilih.

Siapakah yang akan menjadi presiden 2009-2014 masih merupakan pertanyaan yang terbuka. Rakyat yang akan menentukan dan rakyat bisa berubah pilihan. Oleh karena itu, jangan ada yang terlalu yakin telah menang sebelum bertanding. (Sumber Media Indonesia)